Radikal yang Tenggelam Dalam Neraka Oleh : Dr I Wayan Mustika | 10-Mei-2019, 11:43:25 WIB

KabarIndonesia – “Apa yang salah ketika seseorang memilih menjadi kaum radikal dalam beragama. Bukankah hak setiap orang untuk menemukan sorga dengan caranya sendiri?”. Baru kali ini Joko Kendal menanyakan hal yang terkesan aneh pada Nasrudin.  Entah kenapa ia memilih pertanyaan seperti itu untuk mengawali percakapan saat mereka sedang menikmati sore.

Namun Nasrudin justru tak terkejut oleh pertanyaan kawannya itu.  Ia menyadari betapa masih banyak orang belum benar-benar memahami konsekuensi dari sebuah pilihan.  Apalagi ketika konsekuensi dari sebuah tindakan itu diajarkan lewat penafsiran yang seringkali terlalu dangkal.  Maka kali ini ia ingin membekali sahabatnya dengan benih pemahaman yang lebih mendalam.

“Kawanku, Joko Kendal.  Seseorang yang sedang belajar agama untuk bertumbuh dalam kesadaran dan kematangan Jiwa, mirip seperti benih pohon yang sedang tumbuh. Ada yang hanya tumbuh di tingkat akar atau radiks, ada yang terus bertumbuh hingga menjadi pohon dewasa yang mampu berbunga dan berbuah.”

“Di tingkat akar, bagian pohon ini hanya berdiam dalam kegelapan di bawah tanah. Ia sering bersentuhan dengan kotoran, lumpur dan air.  Kadang bila tak tersirami, ia menjadi bagian yang kering.  Hanya bila mampu mengolah kotoran menjadi pupuk, ia bisa mendapatkan bahan untuk bertumbuh.”

“Begitu pun mereka yang tahap belajar agamanya masih sekadar di tingkat akar atau radiks, sering berkembang menjadi kaum radikalisme.  Mereka kerap bersentuhan dengan noda kebenaran atau tafsir-tafsir yang sesat atas ajaran kebenaran dalam agamanya.  Namun bila mereka mampu mengolah itu menjadi pupuk yang bermanfaat, maka dari sana mereka menyadari perbedaan makna antara tuntunan pembenaran ego dan kebenaran hati nurani.”

“Selain itu, sebagaimana akar umumnya selalu tersembunyi di bawah kegelapan bumi, kadang tak tersentuh oleh cahaya, begitulah para pembelajar agama di tingkat radikalisme akan lebih sering bersembunyi dari kehidupan sosial. Tidak saja mereka sering bersembunyi dalam komunitas yang tidak umum, atau di tempat persembunyian yang sunyi, bahkan mereka sering menyembunyikan identitas diri di tengah keramaian umum. Mereka gemar mengisolasi diri dari kehidupan sosial.”

“Lebih buruk lagi, kebanyakan akar yang semakin tumbuh membesar di bawah tanah, seringkali akan merusak tempat sekitar mereka tumbuh.  Begitulah kaum-kaum radikalisme seringkali terlihat menyisakan kehancuran pada tatanan budaya masyarakat di tempat mana mereka sedang bertambah besar.”

“Bila kegelapan dunia bawah tanah sering diilustrasikan sebagai alam neraka, maka sesungguhnya pemikiran radikalisme pun seringkali hanya akan menenggelamkan seseorang pada dimensi neraka.  Sebab kegelapan pembenaran ego sering menjadi pembisik dalam tindakan duniawi mereka, sehingga menyisakan kehancuran dalam kehidupan bumi.  Tindakan kejahatan kemanusiaan seperti ini justru menjadi alasan Jiwa mereka kelak tidak mudah meneruskan perjalanan ke alam cahaya atau suar-ga atau sorga.”

Joko Kendal tersentak dengan pemaparan Nasrudin.  Ia sedang melihat keterkaitan dengan analogi tersebut.  Maka ia meminta Nasrudin meneruskannya.

“Sebaliknya kawan, ketika seseorang membiarkan dirinya terus bertumbuh dewasa oleh pembelajaran agama, memanfaatkan akar-akar pemahaman pikirannya untuk terus menyerap nutrisi bagi Jiwa melalui ajaran moralitas agamanya, kelak ia akan terus berkembang menjadi pribadi yang matang dan dewasa, seperti halnya pepohonan yang tumbuh menjadi pohon dewasa.”

“Sebagaimana pohon yang telah berbatang, bercabang dan beranting, saat itu pohon ini akan lebat ditumbuhi dedaunan hijau yang menyejukkan untuk dilihat dan menjadi tempat bernaung yang meneduhkan.  Begitupun pikiran orang seperti ini akan dipenuhi oleh batang utama pemahaman agama, berbagai cabang pengetahuan kesadaran dan banyak ranting kesadaran moralitas.  Saat itu kepribadiannya dipenuhi daun-daun kebijaksanaan yang sejuk untuk didengar dan ia menjadi tempat bernaung yang meneduhkan batin dan jiwa bagi orang-orang yang menderita oleh suka duka kehidupan.” 

“Selain itu, pribadi yang telah dewasa oleh ajaran agama, mirip sebuah pohon yang berbunga indah.  Tidak saja warna-warni bunganya mengindahkan alam, aromanya pun mewangikan udara.  Jiwa yang matang oleh ajaran agama, sifat dan perilakunya mengindahkan kehidupan dan kata-katanya pun terdengar harum menyegarkan dalam pergaulan.”

“Apalagi saat pohon itu mulai berbuah, ia menjadi berkah menyegarkan bagi kehidupan.  Begitulah orang-orang yang kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritualnya telah tumbuh matang karena melaksanakan kebenaran ajaran agamanya.  Ia mulai menjadi seseorang yang buah pikiran dan buah karma atau tindakannya menjadi berkah bagi kehidupan.” 

“Nah, orang-orang yang Jiwanya menjadi matang oleh ajaran agama seperti inilah, akan selalu dipeluk oleh cahaya sorgawi dan cinta kasih kehidupan duniawi.  Persis pepohonan dewasa yang selalu dipeluk kehangatan matahari dan dibelai semilir hembusan angin.”

“Setelah memahami semua ini, kau mesti menyadari pilihan dan konsekuensinya.  Apakah hendak menjadi kaum radikalisme ataukah memilih menjadi pribadi yang tumbuh matang dalam berbagai kecerdasan diri dan menjadi berkah bagi kehidupan.”

Kalimat terakhir Nasrudin itu benar-benarmenghentikan jalan pikiran Joko Kendal.  Ia lalu memilih diam sejenak dalam perenungan, sampai akhirnya satu kalimat mengalir darinya.

“Terima kasih Nasrudin.  Pesan terakhir itu sangat bermanfaat bagiku.  Kebetulan ini bulan suci, aku akan menjadikan pesan itu sebagai bahan perenungan.  Semoga momentum bulan ini bisa kumanfaatkan untuk menyerap lebih banyak pemahaman kebenaran dalam ajaran suci berbagai agama.  Semoga itu menumbuhkan ranting-ranting pemahamanku dan menjadi dewasa karenanya.  Aku masih ingin menjadi pribadi yang dianggap berkah di bumi dan bisa memberi manfaat dalam kehidupan ini.”

Nasrudin tersenyum mendengar kata-kata Joko Kendal. Di dalam batin keduanya mengalir bisikan yang sama; (“Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat yang melaksanakannya.  Semoga setiap tahap pembelajaran diri lewat latihan pengendalian berbagai hawa nafsu, menjadi proses pematangan Jiwa.  Dan kepada sahabat yang tidak sedang melaksanakan kegiatan puasa, selamat menumbuhkan rasa hormat dan toleransi kepada Jiwa-Jiwa yang sedang menjalani kewajiban pelatihan diri.  Semoga semua bertumbuh menuju kematangan“)

Sumber : kabarindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *