Tangkal Radikalisme, 1.600 Maba IAIN Palu Ditanamkan Nilai Kebangsaan

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada 1.600 mahasiswa baru (maba) tahun 2019, sebagai upaya pembentukan calon intelektual muslim yang moderat di perguruan tinggi Islam negeri tersebut, Kamis (15/8).

Penanaman nilai-nilai kebangsaan yang dipadukan dengan konsep moderasi beragama, dilaksanakan lewat matrikulasi selama dua hari mulai Kamis (15/8) hingga Jumat (16/8), melibatkan para akademisi dilingkungan kampus IAIN Palu.

“Matrikulasi menjadi salah satu pintu masuk pembinaan atau salah satu tahapan pembinaan yang, muatannya tidak hanya sebatas pengenalan akademik, perkualiahan dan metode-metode lainnya. Melainkan di dalamnya juga adalah penguatan terhadap kebangsaan. Kami ingin menanamkan wawasan kebangsaan agar faham sempalan dan radikalisme tidak mudah menjangkit mahasiswa,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Palu, Abidin Djafar, Kamis (15/8).

Kata Abidin, matrikulasi menjadi salah satu tahapan dan jenjang pembinaan mahasiswa baru. Tidak berhenti di situ, tahapan pembinaan kebangsaan yang dipadukan dengan moderasi beragama juga dilakukan pada Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) dan proses perkuliahan setelah PBAK.

“Pengenalan moderasi beragama, moderasi Islam dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif, kepada mahasiswa baru. Nah, ini pintu pertamanya ialah Mahad Aljamiah dan pintu kedua atau tahapan kedua adalah matrikulasi,” ujar dia.

Di matrikulasi, moderasi Islam, moderasi beragama lebih digenjot setelah dari Mahad Aljamiah, yaitu dengan meningkatkan pemahaman mahasiswa baru tentang moderasi beragama dan moderasi Islam serta pengalamannya.

Pembinaan itu menurut Abidin, dilakukan secara berkesinambungan hingga di tahapan perkuliahan. Abidin menerangkan, tahun ini kurikulum IAIN Palu mulai diterapkan dengan basis utama Islam moderat.

Penyebaran paham radikal turut serta menambah tantangan tersendiri bagi IAIN Palu dalam menjaga marwah Kementerian Agama RI, menjunjung tinggi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Kementerian Agama menyebut radikalisme sebagai salah satu paham yang ekstrem, yang di dunia pendidikan justru tumbuh di sekolah umum dengan salah satu pemicunya waktu ajar pendidikan agama yang sedikit sehingga pemahaman terhadap agama menjadi tidak optimal dan menyeluruh. Porsi pendidikan agama di sekolah non-agama umumnya hanya dua jam setiap pekan sehingga materi keagamaan menjadi kurang.

Badan Intelijen Negara (BIN), mengungkapkan, sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar paham radikal, pada tahun 2018. Hal itu berdasarkan penelitian BIN yang dilakukan pada 2017 lalu.

Kepala BIN yang saat itu di jabat oleh Budi Gunawan, mengemukakan 15 provinsi di Indonesia menjadi perhatian pergerakan radikalisme itu. Dari survei yang dilakukan diperoleh data 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam.

Inilah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang Rektor Prof Dr KH Sagaf S Pettalongi menyusun strategi, program kegiatan akademik selain untuk menunjang upaya pencerdasan mahasiswa, juga agar mahasiswa-nya tidak terpapar faham radikal.

“Kami menginginkan agar mahasiswa dapat memahami Islam, seperti Islam yang di ajarkan dan di contohkan oleh Rasulullah SAW. Yaitu, Islam Rahmatan Lilalaamin atau Islam Wasathiyah, atau dalam bahasa Indonesia di sebut Islam moderat,” ujar Profesor Sagaf Pettalongi.

Keinginan Rektor menjadikan mahasiswanya sebagai kaum intelektual Muslim yang moderat dengan konsep Islam Wasathiyah, merujuk pada Quran Surah Albaqarah Ayat 143.

Meski tidak ada mahasiswanya yang terpapar paham radikal, paham ekstremisme, namun kegiatan akademik yang bermuara pada pembentukan wawasan moderasi Islam dan Islam Rahmatan Lilalaamin terus ditonjolkan.

Sumber : kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *