Barisan Pencinta Pancasila selenggarakan Diskusi Pancasila,Intoleransi dan Radikalisme

Barisan Pencinta Pancasila (BPP) mengadakan diskusi tentang Pancasila dan radikalisme intoleransi pada hari Sabtu, 5 Oktober 2019, di resto gado-gado Boplo Cikini Raya, Jakarta Pusat, dengan pembicara Prof. Christianto Wibisono, seorang mantan wartawan istana di era Bung Karno, analis bisnis dan penulis, dan Michael Seno Setiawan, Kabid IT BPP & CEO AyoMulai.com.

Diskusi ini dimoderatori oleh Yuliana, Bendahara Umum BPP & Praktisi Pendidikan.

Acara diskusi dimulai dengan doa yg dipimpin oleh Gus Sholeh. Dan dilanjutkan kata sambutan oleh Dewan Pembina BPP, Kolonel TNI AD, Drs. Luma Sahap, MA.

Bang Luma Sahap menekankan bahwa bangsa besar ini terus diobok-obok baik dari pihak luar maupun oleh bangsa sendiri. Karena itu Pancasila harus dijaga, nilai-nilai luhur Pancasila harus ditanamkan di setiap jiwa manusia Indonesia agar bangsa besar yg telah dimerdekakan oleh pengorbanan jiwa-raga para pahlawan ini tidak tercerai-berai.

Disusul dengan kata sambutan oleh Andy Tirta,
Ketua Umum Barisan Pencinta Pancasila (BPP) yang menceritakan latar belakang dibentuknya BPP bahwa :

“Diawali dgn kegelisahan dan keresahan beberapa sahabat yg saling mengenal di Facebook. Betapa intoleransi, hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah, terus-menerus terjadi di medsos, bahkan terjadi persekusi di dunia nyata. Maka, singkat cerita Barisan Pencinta Pancasila (BPP) pun dilahirkan pada tahun 2018. Tetapi karena pengurus intinya sibuk, maka BPP sempat vacum hampir setahun. Baru setelah usai pemilihan umum, BPP melakukan pertemuan yang kedua kali untuk memilih ulang kepengurusan baru tepatnya pada tgl 26 Juli 2019.” tuturnya dengan penuh semangat.

“Kenapa saya beri nama Barisan Pencinta Pancasila? Ada yg usulkan agar organisasi ini diberi nama Front Pembela Pancasila (FPP). Tetapi saya tak setuju karena saya tidak ingin ada kesan frontal, sangar, keras. Maka, saya memilih nama BPP. Sebab , dunia ini rusak karena tak adanya cinta & kasih. Dengan “cinta” dunia ini akan damai sejahtera. Bumi Nusantara tercinta inipun sudah kekurangan akan cinta sehingga aura kebencian, hoaks, intoleransi, fitnah, bertebaran membuat kelam langit Indonesia.
Maka, Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa, harus dicintai dan dihayati oleh segenap anak bangsa. Seluruh manusia Indonesia harus mencintai Pancasila, berjiwa Pancasilais, mencintai NKRI dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.” jelas Andi Tirta dengan tegas.

Andy Tirta mengatakan kepada para awak media yang hadir bahwa organisasi ini diberi nama BPP karena kita harus mencintai NKRI dengan Pancasilanya.

“Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa harus dicintai, dihayati, oleh segenap anak bangsa, dan seluruh manusia Indonesia harus mencintai Pancasila, berjiwa Pancasilais, mencintai Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika” jelasnya dengan penuh semangat.

Adapun visi dari BPP yaitu menciptakan/melahirkan manusia Indonesia yang berjiwa Pancasilais, mencintai NKRI dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Sedangkan misinya yaitu:

  1. Mengedukasi dan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi dan seluruh komponen bangsa lainnya baik melalui diskusi, seminar, datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan pendidikan nilai-nilai luhur Pancasila, menerbitkan majalah, tabloid, atau buku berisi Pendidikan Moral Pancasila.
  2. Memberikan pelatihan dasar- dasar manajemen pemasaran bagi para UKM dan unit – unit usaha kecil dalam kaitannya dengan UU nomor 6 tahun 2014 tentang pemerintahan desa untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, sehingga bisa tercapai sila ke-5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  3. Melaksanakan bakti sosial kepada masyarakat yang kurang beruntung, para kaum duafa,dan anak yatim-piatu.

Andy Tirta juga menambahkan, jangan sampai Pancasila diganti dengan ideologi lain sebagai dasar negara, pandangan dan falsafah negara.

“Oleh karena itu BPP berinisiatif melaksanakan diskusi-diskusi rutin untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada seluruh komponen bangsa lainnya dan akan dilakukan dengan rutin. Untuk mensukseskan kultivasi nilai-nilai luhur Pancasila dan menjadikan seluruh manusia Indonesia berjiwa Pancasilais, tentunya tidak cukup hanya melakukan pendidikan, seminar atau diskusi semata – mata tentang Pancasila, tetapi juga harus memberdayakan ekonomi masyarakat, meningkatkan taraf hidup rakyat, Mensejahterakan rakyat, barulah Kultivasi, pengolahan, penanaman, dari nilai- nilai luhur Pancasila itu bisa ter- delivery dengan baik dan sukses dalam melahirkan dan menciptakan manusia-manusia Indonesia yang Pancasilais

Dan yang pasti, tidak boleh ada ideologi lain hidup di bumi Indonesia selain Pancasila. Karena, Pancasila telah disepakati oleh para pendiri bangsa dan negara ini sebagai dasar negara, pandangan dan falsafah hidup bangsa!”

“Oleh karena itu, Barisan Pencinta Pancasila berinisiatif melaksanakan diskusi-diskusi rutin untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada seluruh komponen bangsa. Diskusi tersebut akan secara rutin dilaksanakan terutama lewat sekolah-sekolah menengah maupun komponen bangsa lainnya. Diskusi rutin

Andy melanjutkan bahwa untuk menyukseskan Kultivasi nilai-nilai luhur Pancasila dan menjadikan seluruh manusia Indonesia berjiwa Pancasilais, tentunya tidak cukup hanya melakukan pendidikan, seminar, diskusi semata-mata tentang nilai-nilai Pancasila, tetapi, juga harus memberdayakan ekonomi masyarakat, meningkatkan taraf hidup Rakyat, menyejahterakan Rakyat. Barulah Kultivasi, pengolahan, penanaman dari nilai-nilai luhur Pancasila itu bisa ter-delivery dengan baik dan sukses dalam melahirkan dan menciptakan manusia-manusia Indonesia yg Pancasilais.

Prof. Christianto Wibisono yang hadir sebagai pembicara juga menyebutkan bahwa pendidikan nilai-nilai Pancasila tidak akan ter-delivery apabila masyarakat masih miskin dan lapar.

Sementara pembicara dan juga CEO AyoMulsi.com yang juga adalah Ketua Bidang IT BPP, Michael Seno Setiawan menyatakan bahwa radikalisme dan intoleransi bisa terjadi karena kurangnya masyarakat menghayati nilai-nilai Pancasila.

Michael Seno Setiawan juga memberikan saransupaya masyarakat jangan mudah menyebarkan hoaks dan hate speech di medsos. Sebelum mem-forward sesuatu materi di medsos sebaiknya dicek terlebih dahulu. Karena dampak buruknya akan sangat besar bagi kehidupan Berbangsa dan bernegara.

Sumber : pewarta-indonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *