Pentingnya Pendidikan Pancasila, BPIP: Pendidikan Pancasila Harus Diberikan dari PAUD dan TK

Salah satu komponen negara yang besar dan maju dinilai karena berpedoman pada ideologi, seperti Jerman, Korea dan Jepang.

Indonesia juga dinilai demikian, namun sayangnya saat pemilu kemarin negara ini seperti terbelah dan adanya terpapar paham radikalisme atau anti-Pancasila.

Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof FX Adji Samekto menyoroti generasi muda saat ini, terutama generasi Z, yang cenderung apatis.

Oleh karena itu, dirinya mengusulkan agar Pancasila harus didapatkan mulai dari pendidikan terendah, seperti PAUD dan TK.

Prof FX Adji Samekto mengatakan pendidikan Pancasila itu untuk mengembalikan peran Pancasila dalam pembangunan Indonesia, tidak hanya moralitas tapi pembangunan secara konkret.

“Ini soal terkait aspek mengembalikan lagi peran Pancasila dalam pembangunan Indonesia tidak hanya pembangunan moralitas tapi juga pembangunan secara konkret. Pancasila itu juga harus dikonkretkan, bukan gotong royong arti kecil saja, tapi lebih besar dari itu,” kata dia.

Hal itu ia katakan saat diwawancari usai Diskusi Kelompok Terpimpin (FGD) sinkronisasi dan akseptasi Buku Pancasila; Dialektika dan Masa Depan Bangsa di Jimbaran yang berlangsung dari tanggal 7- 9 November 2019.

Hadir dalam acara itu narasumber yang berkompeten memberikan masukan, seperti Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI Arif Budimanta, dan Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta Prof Amin Abdullah dan masih banyak lagi.

“Dalam konteks ini Pancasilanomics membawa Pancasila dalam modernitas. Oleh karena itu memang perlu mengingatkan kembali peran Pancasila. Karena tidak bisa tidak karena selama ini agak ditinggalkan gitu, apalagi dengan muncul generasi ada the vacum of ideologies after 1999 itu, itu intinya,” imbuhnya.

Target penyelesaian buku Buku Pancasila; Dialektika dan Masa Depan Bangsa ini direncanakan awal Desember mendatang.

Sumber : Tribun.Bali / Penulis: I Wayan Sui Suadnyana / Editor: Meika Pestaria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *