Merawat Persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai Bangsa Multikultural

VIVA – Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai macam ras, suku, budaya maupun agama yang tersebar di berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke. Sebagai bangsa yang besar dan majemuk, tentunya Indonesia dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dan persoalan.

Salah satunya yaitu mengenai tantangan dalam menghadapi keberagaman yang ada di Indonesia, entah itu menyangkut keberagaman ras, suku, budaya maupun agama. Seperti pernyataan Ir. Soekarno, “Perjuanganku akan lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Agaknya pernyataan ini cukup relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Di mana persoalan internal bangsa yang tergambar dalam gesekan-gesekan yang terjadi di antara kelompok masyarakat cukup nampak terjadi. Hal ini dibuktikan dengan kasus-kasus kerusuhan antar etnis maupun agama, hingga tindakan diskriminasi terhadap kaum minoritas telah tercatat di dalam lembaran kelam sejarah Indonesia.

Kasus-kasus tersebut semakin menguatkan bahwa dengan karakteristik bangsa yang multikultural justru dapat menjadi bumerang yang dapat mengancam keutuhan dan persatuan bangsa.

Persoalan terkait isu SARA merupakan tantangan yang nyata bagi Indonesia. Karena persoalan ini merupakan isu sensitif yang dapat bermuara pada terjadinya konflik. Langkah-langkah konkret sangat perlu dilakukan sebagai usaha untuk menanggulangi persoalan ini. Mengingat profil Indonesia yang heterogen sangat membuka peluang terjadinya gesekan-gesekan di masyarakat, sehingga persoalan ini dapat menjadi suatu urgensi penting dan mendapatkan perhatian yang lebih oleh tiap-tiap warga negara.

Tantangan dalam Era Digital

Di era digital saat ini, berbagai macam kemungkinan yang dapat mengancam keutuhan dan persatuan bangsa menjadi lebih besar. Dikarenakan sarana informasi dan komunikasi yang mudah diakses membuka peluang tersebarnya beragam ujaran kebencian (hate speech) dan berita-berita palsu (hoax) secara bebas. Terlebih jika hal tersebut menyangkut isu sensitif seperti SARA.

Apabila berita tersebut dicerna mentah-mentah begitu saja, maka tidak menutup kemungkinan akan dapat memicu perpecahan dan konflik di masyarakat. Hal ini tentunya menjadi permasalahan serius yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Pengetahuan masyarakat yang kurang untuk dapat membedakan berita yang asli dan palsu merupakan alasan utama permasalahan ini.

Sehingga berita yang tersebar secara masif di berbagai macam platform digital mudah dipercayai dan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Oleh karena itu, peran para pemangku kepentingan, media dan tentunya pemerintah sangat dibutuhkan untuk dapat mengantisipasi dan mengatasi permasalahan ini. Sehingga berita-berita hoax yang ada tidak begitu lama tersebar dan segera mendapatkan klarifikasi oleh pihak berwenang.

Selain itu, kunci utama sebagai langkah untuk menyikapi permasalahan ini ialah dengan cara meningkatkan rasa mawas diri agar tidak mudah percaya akan adanya berita-berita hoax ataupun narasi-narasi yang menghasut dan menyesatkan. Dengan tidak melupakan untuk selalu berusaha menyaring dan memeriksa fakta di dalam berita-berita yang ada.

Pendidikan Multikulturalisme: Upaya Menanamkan Nilai Toleransi Sejak Dini

Berkaca dari berbagai macam permasalahan terkait isu SARA yang terjadi semenjak Indonesia merdeka hingga pada konteks dewasa ini, tentu perlu ada evaluasi mendalam yang harus dilakukan dalam menyikapi hal tersebut. Salah satu langkah yang dapat diambil yaitu melalui penguatan pada sektor pendidikan multikulturalisme.

Pendidikan multikulturalisme sendiri merujuk kepada proses sosialisasi dan edukasi untuk menumbuhkan sikap dan semangat persatuan dalam menyikapi keberagaman bangsa. Edukasi sejak dini terhadap nilai-nilai toleransi atas keberagaman merupakan langkah krusial yang perlu untuk dilakukan. Sehingga pemahaman terhadap keberagaman dapat menjadi pondasi awal dalam membangun bangsa yang memiliki semangat persatuan dan toleransi.

Pendidikan multikulturalisme ini dapat diimplementasikan melalui institusi terkecil yaitu keluarga.Karena pada hakikatnya keluarga merupakan wadah awal dari proses sosialisasi nilai. Sehingga peran orang tua maupun anggota keluarga juga sangat penting dalam membentuk karakter dan edukasi terhadap nilai-nilai keberagaman.

Terlebih jika pendidikan multikulturalisme ini diwujudkan dan dimasukkan sebagai kurikulum pembelajaran. Seperti dijadikan mata pelajaran di sekolah maka hal ini akan semakin membuka akses dan peluang pendidikan multikulturalisme dapat tersebar secara massif dan maksimal.

Memaknai Semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Sebagai bangsa dengan jumlah penduduk lebih dari 260 jiwa dan terdiri atas berbagai macam ras, suku, budaya maupun agama, kita patut bersyukur.Meskipun dengan kondisi negara yang beragam, kita masih dapat bersatu dalam satu bingkai negara Indonesia. Karena semangat persatuan dan kesatuan, Indonesia dapat merdeka dan berdiri hingga saat ini.

Seperti frasa “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang menjadi semboyan negara Indonesia.Meskipun tersusun atas tiga kata, namun memiliki makna yang mendalam dalam menginterpretasikan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Penanaman nilai-nilai kebhinekaan ini merupakan kunci untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam konteks berkebangsaan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari makna yang terkandung di dalam semboyan tersebut, yaitu untuk meningkatkan kesadaran tiap-tiap warga negara untuk bersatu dan menghilangkan sekat-sekat yang ada.

Semboyan tersebut seakan-akan mengajak kita memaknai kembali arti dari konsep keberagaman. Di mana sisi indah sebuah persatuan akan terwujud ketika kita tidak memandang latar belakang seseorang sebagai suatu penghalang untuk bersatu. Toleransi serta sikap saling menghormati dan menghargai sebagai sesama manusia merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai yang terkandung di dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi simbol pemersatu bangsa.

Karena pada hakikatnya perbedaan merupakan suatu keniscayaan. Sehingga dengan adanya perbedaan kita dapat saling mengenal. Dan dengan perbedaan pula dapat mengajarkan kita makna dari saling menghargai.

Source : viva.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *