Pemkab HSS Gelar Silaturahmi Bersama Pimpinan Ponpes dan Majelis Taklim, Tangkal Paham Radikalisme

KANDANGAN – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan kembali gelar silaturahmi bersama antara Bupati H Achmad Fikry, Wabup HSS Syamsuri Arsyad, Kapolres HSS AKBP SIswoyo, Dandim 1003 Kandangan Letkol Arm Dedy Suhartono, dan Ketua MUI Kabupaten HSS serta seluruh Pimpinan Pondok Pesantren dan Pimpinan majelis taklim dan zikir di Kabupaten HSS.  

Silaturahmi kali ini dihadiri oleh pimpinan Ponpes serta majelis di wilayah Kecamatan  Kandangan, Sungai Raya, Padang Batung, Loksado, Angkinang, Simpur, Kalumpang dan Telaga Langsat. Kegiatan bertempat di Pendopo Bupati Kab HSS, Jumat (26/6/2020) .

Sebelumnya, silaturahmi serupa telah dilaksanakan untuk  tiga kecamatan Daha, yaitu Daha Selatan, Daha Utara dan Daha Selatan),

Selain bersilaturahmi dengan para ulama, pertemuan diisi sosialisasi bahaya paham radikal dan terorisme, dengan narasumber Kapolres HSSDandim 1003 Kandangan, serta Ketua MUI HSS TGH M Ridwan Baseri atau dikenal Guru Kapuh dan Pimpinan Ponpes Dalam Pagar Kandangan TGH Akhmad Syairazi.

Kedua ulama tersebut memaparkan radikalisme dan terorisme menurut pandangan Islam.

Bupati HSS H Achmad Fikry menyatakan, perlu melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, alim ulama termasuk pimpinan ponpes dan majelis talim/ zikir, bukan karena pelaku peristiwa penyerangan Polsek Daha Selatan 1 Juni 2020 lalu berasal dari Ponpes pernah  belajar di pondok.

Tapi karena hanya para ulama, pimpinan ponpes dan majelis yang mampu memberikan pemahaman agama yang benar kepada masyarakat di HSS.

Pelibatan ulama dan tokoh masyarakat, jelas Fikry, sesuai amanah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar saat berkunjung ke HSS untuk meninjau lokasi penyerangan Polsek Daha Selatan.

Saat itu, Kepala BNPT,  Boy Rafli Amar meminta agar pencegahan dan menangkalan paham radikal dan terorisme di HSS harus melibatkan ulama, pimpinan ponpes serta majelis ta’lim dan zikir.

Ketua MUI HSS TGH Muhammad Riduan Baseri (Guru Kapuh) menegaskan, radikalisme dan terorisme itu fitnah terhadap Islam dan umat.

Paham itu tak sejalan dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. KH Ahmad Syairazi juga menambahkan, kurangnya pemahaman terhadap agama karena kebiasaan mereka hanya belajar dari buku, tidak belajar dari guru.

Penganut paham itu, merasa cukup dan bangga dengan pemahamannya, sehinga tak mau menerima pemahaman orang lain.

“Selain itu, karena nafsu dan kemungkinan politik ingin menguasai, sehingga tiga hal itu menjadi  penyebab terosisme,”jelas Syairazi.

Silaturahmi juga dirangkai diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Wakil Bupati HSS Syamsuri Arsyad.

Sumber: banjarmasinpost.co.id 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *