Peran Dai Milenial dalam Menjaga Pancasila, Meminimalisasi Radikalisme

Dialog dai milenial dengan tema ‘Peran Da’i Milenial Dalam Menjaga Pancasila dan Meminimalisasi Radikalisme’ digelar secara daring (online).

Dialog daring melalui zoom meeting itu digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim pada Sabtu (27/7/2020).

Ketua Umum Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jatim, KH Marzuki Mustamar mengatakan, para dai milenial harus memberi teladan soal menjadi muslim yang baik.

“Selain itu da’i milenial juga dituntut memiliki kesadaran dan tanggungjawab menjaga keamanan, keutuhan dan keharmonisan Negara Indonesia,” ujar KH Marzuki.

Sementara Ketua PW Muhammadiyah Jatim Saad Ibrahim menyampaikan pesan bagi dai dalam menjaga Pancasila dan meminimalisasi radikalisme.

“Hendaknya para da’i milenial bisa melakukan dakwah dengan menggunakan teknologi modern khususnya fasilitas medsos mengingat sekarang eranya teknologi digital,” ungkap Saad.

Ketua FKPT Jatim Hesti Armiwulan menyatakan bahwa meski dalam kondisi pandemi Covid-19, FKPT Jatim tetap melaksanakan amanah yang diemban yaitu melakukan berbagai program sebagai upaya pencegahan Radikalisme di Jatim.

Sehingga diharapkan melalui sinergitas berbagai stakeholders dan partisipasi dari berbagai pihak secara postitif dengan mengedepankan kearifan lokal, agar dapat menjaga Jatim tetap aman damai dan sejahtera.

“Semua personil FKPT Jatim tetap beraktivitas sesuai dengan tugas dan fungsinya, meski disesuaikan dengan kondisi Pandemi Covid-19. Sejumlah aktivitas via daring telah dilakukan beberapa kali termasuk dengan BNPT. Intinya kewaspadaan dalam menghadapi kemungkinan ancaman tindak kekerasan dan radikalisme tidak boleh kendor,” ungkap Hesti.

Sedangkan Kabid Agama Sosial Budaya FKPT Jatim Muhammad Arifin juga menyatakan peran dai sangat urgen dalam menjaga Pancasila dan meminimalisasi paham radikal yang menjurus pada aksi-aksi teror. Sebab dai memiliki tugas yang langsung berhadapan dengan masyarakat.

“Sebagai wujud dari pengamalan sila ketiga dalam Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, maka seorang da’i hendaknya dalam setiap ceramahnya bisa melahirkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan,” tambah Arifin.

Arifin juga menyoroti islam datang untuk mengajak umat manusia agar saling asih, mencintai, menyayangi dan melarang untuk saling berpecah belah.

“Para da’i diharapkan bisa berperan aktif dalam ikut serta memutus rantai radikalisme. Yang perlu kita ketahui bahwa terjadinya gerakan teroris itu melalui proses, berawal dari intoleran menjadi radikal dan berakhir menjadi teroris,” tandasnya.

Dialog daring ini juga menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

Emil menyatakan keberadaan serta kehadiran kalangan dai milenial di era globalisasi ini sangat dibutuhkan mengingat perannya bisa berfungsi dalam menjaga ketentraman hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Keberadaan kalangan ustad, kiai atau da’i milenial saat ini sangat dibutuhkan dengan semakin derasnya arus informasi. Maka peran besar para da’i milenial itu menjadi sangat urgen guna menjaga ketentraman hidup di bawah naungan NKRI,” ungkap Emil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *